Wonogiri, 21 Oktober 2025
Surveilans Berbasis Masyarakat (SBM) adalah kegiatan pengamatan, pelaporan dan respon dini oleh masyarakat secara terus menerus dan sistematis terhadap gejala penyakit dan faktor resiko yang menjadi tanda munculnya suatu permasalahan kesehatan di masyarakat (Permenko PMK No 7 tahun 2022). Surveilans Berbasis Masyarakat (SBM) merupakan salah satu pendekatan penting dalam upaya pencegahan dan pengendalian wabah atau Kejadian luar biasa (KLB) yang mengandalkan peran aktif masyarakat khususnya kader/relawan komunitas dalam mengidentifikasi, memantau, dan melaporkan masalah kesehatan di lingkungan mereka. Dengan menggunakan data yang terkumpul dari masyarakat pihak yang berwenang atau pemangku kepentingan terkait dapat merancang dan melaksanakan intervensi yang lebih tepat sasaran, cepat, dan berbasis kebutuhan lokal.
Project SBM ini dilaksanakan di 3 desa yaitu Desa Purwoharjo ( Wonogiri ), Desa Lebakwana ( Serang ), Desa Ciangsana ( Bogor ). Wonogiri adalah satu-satunya kabupaten di Jawa tengah yang di libatkan dalam pilot project SBm ini, lebih tepatnya di Desa Purwoharjo, Kecamatan Karangtengah.
SBM di tingkat desa adalah pendekatan yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat dalam memantau dan mengidentifikasi masalah-masalah yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat, lingkungan, atau aspek sosial lainnya. Pelaksanaan SBM di desa membutuhkan keputusan yang matang dan pengorganisasian yang tepat, dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat. Kegiatan SBM sudah berproses mulai dari pengumpulan data, pertemuan tingkat desa hingga rekrutmen dan pelatihan relawan SBM. Gambaran detail proses tahapan persiapan implementasi SBM sebagai berikut:
1) pengumpulan data dan FGD Kaji desa partisipatif, merupakan rangkaian kegiatan kaji desa partisipatif yang telah dilaksanakan dalam rangka mengumpulkan data dasar untuk mengetahui kondisi kesehatan di suatu desa serta penggalian informasi mengenai persepsi masyarakat tentang penyakit KLB termasuk TBC, mengidentifikasi struktur dan potensi jejaring sosial desa yang akan menjalankan SBM.
2) pelaksanaan rembug warga desa, pelaksanaan rembug warga desa dilakukan selama 2 hari dalam rangka penyampaian analisis dari hasil kaji desa yang sudah dilakukan. Penyampaian hasil analisis data diantaranya, (1) profil desa dan demografi, (2) akses dan fasilitas kesehatan, (3) pelaksanaan Surveilans Berbasis Masyarakat, (4) situasi TBC di Desa, (5) jenis penyakit prioritas, (6) kelompok usia rentan, (7) waktu muncul penyakit, (8) Dukungan sosial, kondisi saat ini vs Harapan, (9) Saluran Informasi warga dan (10) mendapatkan nama-nama calon yang akan menjadi relawan desa.
3) rekrutmen dan pelatihan relawan SBM, kegiatan ini merupakan kegiatan pelatihan yang relawan SBM di Desa Purwoharjo Wonogiri Setelah mengikuti pelatihan ini, peserta mampu melaksanakan program Surveilans Berbasis Masyarakat (SBM) yang terintegrasi TBC di masyarakat.
Sejalan dengan kegiatan yang sudah dilakukan diatas, melanjutkan proses pelaksanaan SBM agar dapat berjalan sesuai dengan perencanaan maka akan pertemuan koordinasi dengan lintas sektor terkait implementasi SBM sekaligus melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan SBM yang sudah berjalan di tiga daerah uji coba. Kegiatan pertemuan ini selanjutnya akan dilakukan agar dapat memantau progress implementasi SBM dan juga perlu melakukan sosialisasi kegiatan SBM yang sudah dilakukan oleh komunitas. Desain kegiatan ini secara rinci sebagai berikut
Pelaksanaan SBM yang sudah dilakukan oleh komunitas merupakan langkah strategis untuk mendeteksi dan merespons ancaman kesehatan di tingkat desa. Namun, keberhasilannya tidak bisa berdiri sendiri. Diperlukan koordinasi lintas sektor yang kuat untuk memastikan setiap proses yang sudah berjalan dapat dilanjutkan oleh para pemangku kepentingan terkait terutama 3 desa daerah uji coba.
Tujuan
Memberikan gambaran program SBM terintegrasi TBC yang sudah berjalan di 3 daerah uji coba ke lintas sektor.
Memperkuat kerjasama dan peran lintas sektor terkait implementasi SBM.
Pada akhir September implementasi SBM melalui pelaporan dan respon dini terkait penyakit sudah dilakukan oleh relawan SBM. Namun, masih perlu dilakukan penilaian terhadap keterampilan mulai dari pengamatan, pencatatan dan pelaporan relawan SBM di tiga daerah uji coba. Monitoring dan evaluasi ini menjadi bagian dari kegiatan yang tidak terpisahkan dari proses implementasi SBM untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan program.
Melakukan penilaian terhadap relawan dalam penerapan keterampilan SBM mulai dari pengamatan, pencatatan, pelaporan, komunikasi.
Mengukur kelancaran alur pelaporan dari relawan, supervisor, PJ Surveilans, dan respon yang dilakukan oleh pihak Puskesmas.
Menggali persepsi manfaat SBM dari perspektif relawan, supervisor, dan pemerintah desa.
Mengidentifikasi kendala, kebutuhan dukungan, dan perbaikan pelaksanaan SBM.
Relawan SBM sudah dibentuk pada kegiatan kaji desa dan sudah memperoleh SK dari Kepala Desa Purwoharjo. Kegiatan ini juga didukung oleh lintas sektor yaitu : Sekretaris Daerah Kabupaten Wonogiri, BAPERRIDA kabupaten Wonogiri, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Wonogiri, PMI Kabupaten Wonogiri, BPBD Kabupaten Wonogiri, Dinas Kesehatan Kabupaten Wonogiri, Kecamatan Karangtengah dan Puskesmas Karangtengah.
Tim kerja dari SKD Kementerian Kesehatan, WHO indonesia, BNPB Pusat serta PR Konsorsium Penabulu – STPI , sudah turun langsung untuk melakukan kegiatan monitoring evalusi di tingkat desa serta memberikan arahan kepada relawan terkait kegiatan yang harus dilaksanakan dalam pelaporan kasus penyakit prioritas SKDR di wilayah desa Purwoharjo.